Report: Gathering with Telkomsel, 26 Juni 09
29 June 2009 oleh Amed
Pada Kayuh Baimbai
Pada hari Jum’at, 26 Juni 2009, bertempat di Seafood D’ Cost Restaurant, sekitar 30an anggota Komunitas Kayuh Baimbai menghadiri gathering yang diadakan oleh Telkomsel.
Acara yang berlangsung merah-meriah tersebut sekaligus sebagai acara peresmian Telkomsel Flash Community. Sebagai perwakilan dari Komunitas Kayuh Baimbai, Manusiasuper ikut serta menarik selubung backdrop panggung, yang secara simbolis menandai resminya komunitas baru tersebut mengudara.
Di acara tersebut ada pula paparan dari Pak Ismu Widodo dari Telkomsel yang membahas mengenai kemajuan teknologi yang telah membuat bumi menjadi datar (seperti kata Thomas L. Friedman).
Di sesi tanya jawab, kembali rekan Mansup duduk sepanggung dengan Pak Ismu dan Pak Wildan dari Telkomsel, dan sedikit berbicara tentang harapan dan keinginannya dalam kapasitasnya sebagai perwakilan Blogger KalSel. Hal ini tak lepas pula dari keinginan kuat dari Komunitas Kayuh Baimbai sendiri untuk terus memajukan dunia ngeblog di KalSel, dan melalui blog, diharapkan KalSel juga bisa beroleh kemajuan dalam akses informasi, utamanya di dunia maya.
Untuk report suasana secara lebih detil bisa diintip di posting Bang Eoin.
Untuk foto-foto, masih menunggu fotografer resmi KB beraksi,sudah diupload oleh fotografer resmi KB di sini.
Penyaluran bantuan musibah kebakaran (report)
29 June 2009 oleh KKB Admin 03
Pada Blogger Seribu Sungai
Minggu pagi (28/06/09) Blogger Seribu Sungai bergerak ke lokasi musibah kebakaran untuk penyerahan bantuan; hasil penggalangan dana beberapa waktu yang lalu untuk korban musibah kebakaran di kawasan Jl. Bulan Mas Kecamatan Banjarmasin Timur Kelurahan Pekapuran Banjarmasin.
Adapaun bantuan yang berhasil terkumpul diserahkan langsung pada posko penanggulangan musibah setempat dengan berupa; uang tunai, sembako, mie instant, serta pakaian layak pakai.
Dari posko setempat juga diperoleh data berupa jumlah kerugian materil musibah kebakaran yang kurang lebih mencapai 48 bangunan sepanjang 3 rukun tetangga. Rincian kerugian materil sbb:
Gg. Tumaritis Rt. 23 Banjarmasin Timur : 9 rumah, 7 rumah sewa Gg. Hidayah Rt. 28 Banjarmasin Timur : 13 rumah Komp. Amanah Rt. 29 Banjarmasin Timur: 10 rumah, 9 rumah sewa
Pegunungan Meratus ku Hancur
27 June 2009 oleh KKB Admin 03
Pada Tulisan Pilihan Mingguan
Hijau-ku menjadi menjadi debu, bening air-ku menjadi coklat keruh hijau berlumut…
Disatu sisi pegunungan meratus aku masih bisa merasakan sejuknya udara, dan dinginnya cuaca, namun disisi lain aku merasakan panas menyengat, kering krontang, bahkan kuman saja malas hidup disana…
Seandainya saja “dia” yang mengeruk perut Meratus-ku tinggal dan hidup di lubang bekas galian mereka, mungkin mereka akan tau rasanya apa yang telah mereka perbuat dengan Hutan-ku…
Memang aku mendapat bagian dari hasil galian mereka, ya!!! aku memang mendapat bagian, bagian yang mereka berikan kepada-ku adalah “air yang melimpah”, “Sinar matahari yang sangat terang” dan “Salju coklat-hitam-merah tua”, atau yang biasa orang sebuat dengan “Kabanjiran”, “Pemanasan Global” dan “Debu pengangkut emas hitam”…
Daerah-ku memang mendapat royalti, tapi aku tidak tahu apakah aku dan saudara-saudara-ku telah menikmati hasil kekayaan alam meratus-ku, sering aku berandai-andai kalau saja kekayaan alam meratus-ku yang telah “dia” keruk hanya untuk-ku saja, maka aku dan seratus turunanku dapat hidup tanpa bekerja kesana-kemari…
Menurut orang-orang, satu tahun saja sebagian meratus-ku dikeruk, maka akan dapat menghidupi seluruh daerahku selama 316 hari…
Oleh Dillah
Perempuan Tepi Sungai
27 June 2009 oleh KKB Admin 03
Pada Tulisan Pilihan Mingguan
Subuh itu, seperti yang lampau, 25 tahun sudah, di sebuah desa ditepian Sungai Martapura, Lok Buntar namanya. Agak menjorok kedalam sedikit disebuah gubuk reyot yang tampak asri dengan warna kayu alami memudar, perempuan itu bermukim. Dengan pemandangan yang hijau kanan dan kiri gubuk itu, di belakangnya terhampar kebun jeruk yang tidak begitu luas dan diselingi beberapa pohon pisang dan beberapa lagi pohon tigarun.
Seperti biasa ba’dha subuh (karna tidak ada detak jarum penunjuk waktu di dinding gubuknya, maka ba’dha subuh lah yang jd patokannya), berbekal sebotol air minum, strongkeng (lampu dengan nyala api yang berbahan bakar spritus) tuk penerangan sebelum cahaya alam bersinar, caping daun purun lusuh seperti payung, sambil membawa pengayuh di tangan kanan menuju jukung tua tertambat ditepi sungai Martapura.
Sebelumnya jukung itu sudah diisi nya dengan beberapa hasil kebun, ada sebakul jeruk manis, 10 sisir pisang mahuli dan beberap plastik
kembang tigarun yang sudah di jaruk.
Perlahan jukung pun dikayuh menuju Lok Baintan tempat dimana salah satu pasar terapung berada, sesekali dia menarik nafas dalam menghirup
udara segar di pagi buta sambil mengusapkan pupur dingin dimukanya.
Tak lama iya menunggu diatas jukung yang terombang-ambing karna beberapa kelotok lewat menggelombangkan air sungai yang coklat warnanya, pembeli menawar, beberapa lembar Rupiah sesekali iya masukkan dalam slepe.
Waktu tlah tiba, jukung pun berganti muatan dengan beberapa liter beras dan sedikit bahan makanan penyerta beras serta kebutuhan lainnya.
Kembali iya mengayuhkan dayungnya, mendorong jukung tuk bergerak maju menyisir tepian sungai Martapura, berbalik arah.
Diperjalan pulang, sesekali iya berhenti mendayung karena berpapasan dengan kelotok sarat muatan menuju hilir ada yg berseragam sekolah
dan ada juga yg bermuatan material lainnya. Tak berapa lama, sambil memakan beberapa potong kue tuk sarapan, dayung pun kembali di kayuhkan.
Selang beberapa waktu, dia memandang ke sebuah gubuk kayu diujung sana, ya…disanalah tujuan jukung itu diarahkannya. Jukung ditambatkannya, berdiri iya menarik tapih bahalai tuk mengencangkan ikatannya dan merapikan, muatan dibongkar, caping purunpun dilepas.
Menghela nafas beberapa saat, sambil duduk di kursi panjang dipelataran rumahnya dan meneguk air minum digelas plastik.
Ya begitulah perempuan itu setiap paginya, hanya tuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang sekarang sebatang kara. 25 tahun lalu beliau
tidak seperti ini, setelah ditinggal suaminya wafat karna sakit keras. Dulu suaminya bekerja sebagai pembuat batu bata putih.
sekarang hanya jukung tua lah yang menjadi gantungan hidupnya sebagai alat transportasi ke pasar terapung.
“aku bersandar kepada sebuah kayu lapuk bahkan hampir tenggelam…”
Sekarang beliau sudah hampir genap 67 tahun tetapi fisiknya masih kuat tuk mendayung jukung itu.
(sambil memandang jukung tua yang tertambat ditepi)
“aku berkelakar dibenak ini, jangan kau rapuh sebelum aku menutup usia….”
Oleh Bowo
Simpang Empat Banjarbaru, Dulu Dan Sekarang
27 June 2009 oleh KKB Admin 03
Pada Tulisan Pilihan Mingguan
Simpang Empat, sebuah perempatan jalan yang merupakan jalan provinsi menghubungkan Banjarmasin, Pelaihari, Riam Kanan dan Martapura dan ditengahnya terdapat sebuah bundaran yang lumayan besar. Bundaran ini selalu dilewati bila menuju ke Banjarmasin karena bundaran ini terletak di jalan A. Yani yang merupakan jalan propinsi berseberangan dengan gedung Unlam Banjarbaru. Karena keberadaan perempatan ini pula akhirnya daerah ini disebut simpang empat Banjarbaru. Berbeda dengan tempatku yang karena keberadaan Komet (kincir angin) akhirnya menjadi nama jalan komet dan kelurahan komet. Walau sekarang sudah hilang….ah…biarlah..!
Bundaran ini dari sejak dulu menjadi salah satu ikon Kota Banjarbaru, walau dulu saat aku kecil bundaran ini hanya sekedar bundaran yang terlihat seadanya hingga akhirnya di buat sebuah tugu ditengahnya. Bahkan pada lagu Mars Kota Banjarbaru terdapat lirik tentang bundaran Simpang Empat ini. Keberadaan bundaran ini juga menjadi salah satu tempat masyarakat berolah raga dengan mengitari bundaran, walau sekarang sudah berkurang karena terpusat di lapangan Murjani sebagai tempat aktifitas warga berolahraga pada hari minggu. Bahkan saat aku masih kecil dan bermukim di Martapura sering sekali berjalan-jalan menggunakan sepeda bersama teman-teman dengan bundaran tersebut sebagai tempat perputaran untuk kembali ke Martapura.
Keberadaan bundaran ini juga sangat ramai dikunjungi terutama pada saat-saat malam pergantian tahun (tahun baru) dan pada malam hari raya Idul Fitri. Karena disana biasanya ribuan warga sebagian besar anak muda berbaur disekeliling dan sekitar jalan tersebut, berkumpul disana sambil menyaksikan pesta kembang api disekitar bundaran tersebut (termasuk aku juga sering kesana he..he..).
Namun keberadaan bundaraan ini sempat merana, kolam air terjun yang ada disamping bundaran sudah lama teronggak tak terurus, maklum mungkin pada saat membuat kontruksi yang ada tidak mampu melawan guncangan jalan yang dilalui ribuan kendaraan bermotor dan truk-truk batu bara yang lewat disana, menyebabkan air yang ada selalu habis karena terjadi kebocoran. Begitu juga dengan air mancur yang ada disekeliling bundaran selalu diisi oleh truk tangki agar dapat terus menyala.
Melihat keadaan tersebut akhirnya tugu yang jadi kebanggaan itu di bongkar dan diadakan lomba untuk mendesain bundaran kota Banjarbaru itu tentunya dengan seleksi ketat dan harus mengandung nilai visi dan misi serta karekteristik kota Banjarbaru. Pemenang lomba ini desainnya digunakan untuk tugu simpang empat. Namun sayang, pekerjaan pembuatan itu sempat terhenti dan baru tahun 2009 ini dilanjutkan kembali.
Sebagai warga kota Banjarbaru tentu menginginkan keberadaan bundaran itu kembali menjadi salah satu kebanggaan, semoga pekerjaan pembuatan tugu pada bundaran ini dapat berjalan dengan lancar sehingga menambah cantik kota Banjarbaru karena tentu sangat ditunggu untuk kembali menghias kota ini, dan sebagai warga mendukung apa yang dilakukan oleh pemerintah kota dan bila sudah selesai tentu perawatanlah yang nanti harus dilakukan dengan menyediakan anggaran dan mungkin juga dengan pengamanan disekitar bundaran agar tidak dirusak oleh tangan-tangan jahil. Sehingga simpang empat dapat kembali menjadi ikon kebanggaan kota ini sebagaimana lirik lagunya : “simpang empat ada bundaran tertata rapi dihiasi taman, sejauh-jauh mata memandang Banjarbaru selalu dikenang.”
Oleh Aap


