Perempuan Tepi Sungai

27 June 2009 oleh KKB Admin 03  
Pada Tulisan Pilihan Mingguan

Subuh itu, seperti yang lampau, 25 tahun sudah, di sebuah desa ditepian Sungai Martapura, Lok Buntar namanya. Agak menjorok kedalam sedikit disebuah gubuk reyot yang tampak asri dengan warna kayu alami memudar, perempuan itu bermukim. Dengan pemandangan yang hijau kanan dan kiri gubuk itu, di belakangnya terhampar kebun jeruk yang tidak begitu luas dan diselingi beberapa pohon pisang dan beberapa lagi pohon tigarun.

Seperti biasa ba’dha subuh (karna tidak ada detak jarum penunjuk waktu di dinding gubuknya, maka ba’dha subuh lah yang jd patokannya), berbekal sebotol air minum, strongkeng (lampu dengan nyala api yang berbahan bakar spritus) tuk penerangan sebelum cahaya alam bersinar, caping daun purun lusuh seperti payung, sambil membawa pengayuh di tangan kanan menuju jukung tua tertambat ditepi sungai Martapura.

Sebelumnya jukung itu sudah diisi nya dengan beberapa hasil kebun, ada sebakul jeruk manis, 10 sisir pisang mahuli dan beberap plastik
kembang tigarun yang sudah di jaruk.
Perlahan jukung pun dikayuh menuju Lok Baintan tempat dimana salah satu pasar terapung berada, sesekali dia menarik nafas dalam menghirup
udara segar di pagi buta sambil mengusapkan pupur dingin dimukanya.

Tak lama iya menunggu diatas jukung yang terombang-ambing karna beberapa kelotok lewat menggelombangkan air sungai yang coklat warnanya, pembeli menawar, beberapa lembar Rupiah sesekali iya masukkan dalam slepe.

Waktu tlah tiba, jukung pun berganti muatan dengan beberapa liter beras dan sedikit bahan makanan penyerta beras serta kebutuhan lainnya.
Kembali iya mengayuhkan dayungnya, mendorong jukung tuk bergerak maju menyisir tepian sungai Martapura, berbalik arah.

Diperjalan pulang, sesekali iya berhenti mendayung karena berpapasan dengan kelotok sarat muatan menuju hilir ada yg berseragam sekolah
dan ada juga yg bermuatan material lainnya. Tak berapa lama, sambil memakan beberapa potong kue tuk sarapan, dayung pun kembali di kayuhkan.

Selang beberapa waktu, dia memandang ke sebuah gubuk kayu diujung sana, ya…disanalah tujuan jukung itu diarahkannya. Jukung ditambatkannya, berdiri iya menarik tapih bahalai tuk mengencangkan ikatannya dan merapikan, muatan dibongkar, caping purunpun dilepas.
Menghela nafas beberapa saat, sambil duduk di kursi panjang dipelataran rumahnya dan meneguk air minum digelas plastik.

Ya begitulah perempuan itu setiap paginya, hanya tuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang sekarang sebatang kara. 25 tahun lalu beliau
tidak seperti ini, setelah ditinggal suaminya wafat karna sakit keras. Dulu suaminya bekerja sebagai pembuat batu bata putih.
sekarang hanya jukung tua lah yang menjadi gantungan hidupnya sebagai alat transportasi ke pasar terapung.

“aku bersandar kepada sebuah kayu lapuk bahkan hampir tenggelam…”

Sekarang beliau sudah hampir genap 67 tahun tetapi fisiknya masih kuat tuk mendayung jukung itu.

(sambil memandang jukung tua yang tertambat ditepi)

“aku berkelakar dibenak ini, jangan kau rapuh sebelum aku menutup usia….”

Oleh Bowo

... informasi di atas disampaikan oleh ...
KOMUNITAS KAYUH BAIMBAI
Komunitas Blogger Kalimantan Selatan

Komentar

Maaf, komentar ditiadakan...