Kayuh Baimbai

Komunitas Blogger Kalimantan Selatan

Jurnalisme Warga

Bekantan, Mati Lagi

30/11/2011 by samsuni in Jurnalisme Warga with 0 Comments

Kayuhbaimbai.org – Tragis menyaksikan tayangan Trans TV dalam berita sore (Rabu,30/11) yang mengabarkan kematian seekor bekantan di Kebun Binatang Surabaya. Setelah banyak berita yang menunjukkan semakin brutalnya manusia menyisihkan bekantan dari kehidupan alaminya, bekantan yang lari ke sawah dan pemukiman penduduk serta dibantainya bekantan karena dianggap sebagai hama oleh pengusaha perkebunan kelapa sawit. Hari ini, kembali terdengar bekantan mati lagi.  Humas KBS Antan Warsito mengatakan bekantan yang mati ini ditemukan oleh penjaganya sekitar pukul 08.00 WIB. “Dari kondisi fisik, diketahui ada luka di pundak kanan,” katanya. Menurut dia, melihat kondisi tersebut, lanjut Antan, diduga luka tersebut akibat gigitan bekantan jantan lainnya.

Biasanya bekantan yang luka tersebut karena kalah berkelahi dengan pejantan lainnya pada saat merebutkan bekantan betina. “Namun, ketika berayun dari ranting ke ranting ternyata ada ranting yang patah, sehingga jatuh ke kolam. Selama ini kandang bekantan itu terbuka dan di pinggirnya dibuatkan kolam, sehingga bekantan tak bisa keluar dari kandang,” jelasnya

 

 Sebagai warga kalimantan tentu kita prihatin mendengar dan menyaksikan satu persatu bekantan yang menjadi icon borneo di dunia punah karena tergusur oleh kerakusan dan kelalaian manusia. Bekantan atau dalam nama ilmiahnya Nasalis larvatus adalah sejenis kera berhidung panjang dengan rambut berwarna coklat kemerahan dan merupakan satu dari dua spesies dalam genus tunggal kera Nasalis.

Bekantan tersebar dan endemik di hutan bakau, rawa dan hutan pantai di Pulau Kalimantan. Spesies ini menghabiskan sebagian waktunya di atas pohon dan hidup dalam kelompok-kelompok yang berjumlah antara 10 sampai 32 kera. Bagaimana mungkin bekantan dapat hidup yang layak jika lahan tempat berteduh dan mencari makan berupa daun-daunan dari pohon rambai/pedada (sonneratia alba), ketiau (genus motleyana), beringin (ficus sp), lenggadai (braguiera parviflora), piai (acrostiolum aureum) digantikan dedaunan kepala sawit.

Di siang hari bekantan menyenangi tempat yang agak gelap atau teduh untuk beristirahat. Dan di sore hari, bekantan kembali ke pinggiran sungai untuk makan dan memilih tempat tidur tapi adakah itu dirasakan dalam kehidupan di Kebun Binatang yang katanya wadah berdiam bekantan. Padahal satwa bekantan ini dijadikan maskot Provinsi Kalimantan Selatan berdasarkan SK Gubernur Kalsel No. 29 Tahun 1990 tanggal 16 Januari 1990. Selain itu, satwa bekantan ini juga menjadi maskot Dunia Fantasi Ancol. Masyarakat Kalimantan sendiri memberikan beberapa nama pada spesies kera berhidung panjang ini seperti Kera Belanda, Pika, Bahara Bentangan, Raseng dan Kahau. []

Tagged , ,

Related Posts

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


Kayuhbaimbai.org merupakan komunitas blogger Kalimantan Selatan. Dibentuk tahun 20 Januari 2008 dengan mengusung semangat memajukan perkembangan dunia informasi di Kalsel.
::.Arsip::.
  • Video Channel

      Menyusuri Sejarah Kincir Angin Comet Banjarbaru
      Ustadz M. Nur Maulana di Masjid Jami' Hidayatul Muhajirin Kota Banjarbaru
      Pasca Banjir di Banjarbaru.mp4
      Musyawarah Seni (Musen) Dewan Kesenian Banjarbaru
      Tari Baksa Kembang
      Pos Polisi Banjarbaru Terbakar.AVI

  • Foto Channel