Jurnalisme Warga
Belitung jadi Tujuan Penjaja Durian
Kayuhbaimbai.org, BANJARMASIN – Melanjutkan postingan sebelumnya tentang fenomena migrasinya penjaja durian ke Belitung, kini, penjaja buah durian migrasi dan memilih jalan Belitung Kecamatan Banjarmasin Barat sebagai lokasi yang strategis untuk menggelar dagangannya.
Menurut Syaiful yang menjaja buah durian tepat di depan Ruko jalan Belitung Laut menyatakan “Enak, Mas jualan di sini. Banyak pembeli dan bisa lebih mudah memilih, lagi pula nggak ada preman lapak! ucapnya kepada kayuhbaimbai.org seraya memindahkan buah durian yang ada dalam keranjang di belakang motor bebeknya. “Di sana lapak jualan sudah dikuasai preman, Mas! lanjutnya menunjuk lokasi penjaja di persimpangan jalan S. Parman. Jadi, karena itulah salah satu alasan mengapa penjaja durian migrasi ke jalan Belitung karena aman dan nyaman. Wah, ini strategi pemasaran yang sangat ampuh bagi PKL tidak tetap seperti penjaja buah durian ini.
Buah durian yang sekarang memenuhi tepi jalan Kota Banjarmasin berasal dari kebun warga Basarang Kuala Kapuas atau dari Balangan yang dikenal dengan durian sahang serta beberapa dari Karang Intan Kabupaten Banjar. Harganya pun cukup murah, sebiji buah durian berukuran besar di jual Rp 15.000 dan yang berukuran sedang ditawarkan Rp 50.000 untuk 3 biji durian. Sementara buah durian yang kecil dijual seharga Rp 10.000 sebiji dan kalau pintar menawar akan mendapat diskon yang lumayan. Untuk itulah pembeli yang berjajar di depan penjaja buah durian semakin menumpuk terkadang memacetkan jalan raya. Tampaknya bukan hanya buah durian, ternyata penjaja buah cempedak, buah kasturi, buah rambutan juga buah manggis sehingga semakin ramai penjaja dan pembeli bertransaksi. Menurut, Rahman yang menjaja buah durian dan cempedak “tahun ini panen buah serempak, hampir semua jenis buah ada di pasaran sehingga nilai jual juga murah” ucapnya dengan gembira. []
Tagged Belitung Banjarmasin, Durian, Karang Intan Kabupaten Banjar







Hunter Zaperanta30/12/2011 at 11:20
seolah tabu atau darah sunda adalah halal hal tsb tidak pernah disebut dalam sejarah indonesia yang memang tidak jujur dan sering memutar balik fakta.