Jurnalisme Warga
Berburu Durian ke Desa Bi’ih Kabupaten Banjar (1)
Kayuhbaimbai.org, KAB. BANJAR – Tiap kali musim durian, nama desa Bi’ih akrab di telinga masyarakat Banjar, khususnya mereka yang berada di wilayah Martapura, Banjarbaru, Banjarmasin dan juga Pelaihari. Keakraban nama desa Bi’ih bukan tanpa alasan. Tiap kali musim durian, bahkan cempedak, warga desa Bi’ih akan membawa hasil panen durian dan cempedaknya ke kota-kota yang tadi saya sebutkan. Meski demikian, warga desa Bi’ih tidak menutup kemungkinan menjualnya ke kabupaten/kota lain yang tidak tersebut diatas.
Jika anda membeli durian dan menanyakan asal durian tersebut lalu dijawab oleh si pedagang dengan nama Bi’ih, maka inilah kisah perjalanan kami ketika berkunjung ke Desa Bi’ih untuk mencari tahu tentang desa tersebut.
Sabtu, 3 Desember 2011, hujan sepertinya akan menggagalkan semua rencana kami. Carbone dan Nia memastikan apakah kami akan nekat menerobos muntahan hujan yang derasnya tak terkira. Saya menjawab dengan harapan semoga hujan akan berhenti persis pada jam 2 siang. Dengan begitu, kawan-kawan dari Banjarmasin memunyai waktu untuk berkumpul di Banjarbaru. Mendekati jam 1 siang, hujan mulai berhenti walaupun gerimis tipis tetap mengibaskan basah kepada daun-daun dan aspal.
Kali ini saya ingin bercerita sedikit tentang Zian. Begitulah namanya. Anak muda penuh semangat dan cukup nekat ini sambil menunggangi motornya, ia terobos hujan dari Banjarmasin menuju Banjarbaru. Sementara itu, saya sedang meringkuk kedinginan di balik jaket sambil menghadap komputer yang loading internetnya hancur-hancuran.
Kedatangan Zian mengabarkan dua hal. Ia baru saja menuntaskan pembicaraan dengan kepala sekolah SMK Bina Banua tentang rencana Workshop ngeBlog bekerjasama dengan Kayuhbaimbai.org. Kabar lainnya adalah, ia bolos kuliah lagi karena ingin ikut ke desa Bi’ih untuk berburu durian. Akh, Zian bukan saja anak muda penuh semangat, tapi juga anak muda yang perlu diselamatkan (hehehe…).
Seperti harapan saya, jam 2 hujan mulai reda. Sesekali hujan kembali datang, namun itu tak berlangsung lama. Saya pun kemudian menghubungi seorang kawan yang rencananya bersedia menjadi penunjuk jalan. Sialnya, kawan itu kemudian membatalkan diri karena ada kesibukan yang memaksa. Baiklah, bersama Zian, kawan itu kemudian memberikan coretan-coretan penunjuk arah untuk tiba di desa Bi’ih.
Sesuai rencana, jam 3 adalah jadwal keberangkatan menuju desa Bi’ih. Saya dan Zian beriringan menuju tempat perjanjian, taman air mancur Banjarbaru. Sementara Carbone dan Nia lebih dulu berada di sana. Dalam perjalanan, saya kirim pesan pendek ke Sapri bahwa kami siap berangkat. Sapri sempat menjawab untuk minta waktu sebentar.
Ijinkan saya bercerita tentang lelaki ini sebentar. Sapri, namanya. Ia adalah salah seorang pendiri Komunitas Blogger Kayuh Baimbai tempat selama ini kami berbagi pundak; sekali waktu, ada duka yang kami rawat bersama-sama. Di lain waktu, ada suka yang kami pelihara dengan bersama pula. Sejak 1 minggu lalu, Sapri berjanji akan menyempatkan untuk bergabung dengan kawan-kawan Kayuh Baimbai untuk mengunjungi desa Bi’ih. Itu artinya, ia akan bolos beberapa jam dari tempatnya bekerja. Terimakasih atas pengorbananmu kawan. Jujur, komunitas sedang membutuhkan kebersamaan kalian.
Di taman air mancur Banjarbaru, Saya, Zian, Carbone dan Nia sudah berkumpul. Sesekali mata kami memandangi awan yang bergumpal. Sesekali kami tutupi keraguan kami sendiri untuk tetap berangkat dengan bercanda ringan. Meski demikian, saya yakin, kegelisahan tetap berselimut di hati kami masing-masing. Jam 3 telah lewat, tak satupun yang mengirimkan kabar berita apakah kawan-kawan lain juga siap berangkat.
Akhirnya, seperti orang-orang penunggu kabar, pesan-pesan pendek pun dikirimkan. Setelah itu barulah satu-persatu mengirimkan balasan bahwa di Banjarmasin sedang hujan lebat, mereka tidak bisa berangkat. Wah, sepertinya ini akibat Carbone yang menindahkan semua hujan di Banjarbaru ke Banajrmasin…wkkk. Apa kubilang, kalau belum punya Surat Ijin Memindahkan Hujan, jangan coba-coba bermain dengan arah mata angin. BIsa kacau begini kan! Huawakkkkk…(just kidding).
O, ya. Ada satu pesan pendek lagi masuk dari Sapri yang memberitahukan kalau dia sudah menunggu di depan Museum Lambung Mangkurat. Tanpa menunggu lama lagi, akhirnya kami berangkat menyambangi Sapri dan langsung menuju desa Bi’ih lewat Mandiangin…(bersambung)
Tagged Cempedak, Desa Bi'ih, Durian, Kabupaten Banjar, Mandiangin, musin durian







gaptek04/12/2011 at 05:44
Dalam tulisan diatas terdapat info beberapa tokoh,,
menunggu di bagian keDua kalupina ada info tokoh si penulis jua,,, hehe.
Zian04/12/2011 at 06:26
Hahaha… memang perlu diselamatkan nah….
yulian04/12/2011 at 15:17
Saya ndak jadi ikut, karena ada pekerjaan mendadak yg tidak bisa ditinggalkan…
iezul05/12/2011 at 00:55
padahal hati sudah 100% handak umpat samalam tu….pas nyokap datang dari hulu sungai, kada nyaman maninggalakan sidin, pas hujan jua sin ramian…..umpat mandangar kisahnya ai nah. *ngelirik zian*
dasar canggih pang nang saikung tu, perlu dilestarikan.