Merajut Sukma Menuju Air Terjun Mandiangin

Topik: , , , ,

air terjun mandianginKAYUHBAIMBAI.ORG, KABUPATEN BANJAR - Siang itu gerimis ketika vespa kesayanganku meluncur meninggalkan rumah menuruti kemauan empunya yang telah lama penasaran dengan air terjun Mandi  Angin di  Taman Hutan Rakyat Kabupaten Banjar. Dari simpang empat Banjarbaru mulai kuhitung waktu perjalananku, selang beberapa menit mataku tanpa sadar disuguhi tulisan yang kesannya garang “Infanteri , mencari, menemukan, menghancurkan musuh”. Tulisan itu rupanya semboyan TNI yang terpampang di pagar korem 623 Kota Banjarbaru. Di sepanjang jalan berturut-turut nampak rumah warga berjajar rapat, semakin lama semakin jarang hingga tak terasa dikanan kiri jalan hanya ada  hamparan sawah. Angin berhembus tipis menerpa tubuhku yang sempat berhenti sejenak. Tanpa sadar buaiannya membuatku  segera menarik nafas panjang menyambut kedatangan angin yang menyeruak lembut diantara hamparan batang-batang padi  yang mulai menguning.

Memasuki kampung Padang Panjang rumah-rumah warga terlihat begitu segar dan nyaman karena dikelilingi pohon-pohon yang rindang. Beberapa orang yang tak sengaja berpapasan tersenyum ramah seakan mengucapkan kalimat “selamat datang” . Pun demikian ketika memasuki kampung Mandiangin pohon-pohon buah seperti durian dan mangga berdiri gagah di sekitar pekarangan.

Untuk menuju Taman Hutan Rakyat (Tahura) Sultan Adam tidaklah sulit karena  pintu masuknya terdapat tugu melengkung bertuliskan “Tahura Sultan Adam” . Perjalanan berikutnya, lagi-lagi kita disuguhi pemandangan perbukitan yang tak kalah elok. Saya yakin siapapun yang terbiasa hidup dalam rutinitas kerja di perkotaan akan membutuhkan kesegaran semacam ini, hutan karet , bukit yang menghijau, udara segar yang menerobos paru-paru kita seakan menelusup ke relung kegundahan pemikiran ala kota yang selalu disibukkkan dengan rutinitas yang tidak ada habisnya.

Di pintu masuk daerah wisata Tahura Sultan Adam kita hanya dikenakan retribusi murah dengan hanya membayar Rp. 1.500,- untuk anak dan Rp. 2.500,- untuk orang dewasa. Tahura Sultan Adam terdapat beberapa tempat wisata seperti Benteng Belanda , kolam renang, dan air terjun. Tujuan utamaku kali ini adalah air terjun Mandiangin. Dibutuhkan waktu  sekitar lima menit untuk sampai di pos terakhir menuju air terjun yaitu di kolam renang  yang airnya berasal dari sumber di pegunungan. Di sebelah kolam renang itu terdapat dua warung tempat santai untuk mengisi perut , minum kopi atau minuman lainnya juga tempat berjualan beberapa makanan kecil yang kita butuhkan. Hanya dibutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai ketempat ini dihitung dari Bundaran simpang empat Banjarbaru.

Letak air terjun tidak jauh dari warung yang di huni oleh Pak Amin sekeluarga yang kebetulan juga pegawai kontrak dinas kehutanan provinsi Kalimantan Selatan, sekitar 200 meter. Penasaran, setelah melepas jaket dan menitipkkan tas, saya langsung menuruni “ jalan terjal dan berbatu” seperti lagu Iwan Fals. Tapi hatiku langsung riang setelah mendengar gemericik air di sebelah jalanku. Tanpa sadar langkah kakiku membelok meninggalkan jalur yang seharusnya kulewati menuju air terjun. Hanya sekitar lima meter menembus ilalang mataku langsung bisa melihat aliran air yang sangat jernih menerabas bebatuan menuju lembah.  Sungguh pemandanggan yang luar biasa. Batu-batu dan air itu bagaikan bersenggama sambil menyenandungkan melody keagungan nan sempurna. Merajut kefanaan sukma yang selama ini terburai oleh keinginan dunia yang tidak ada habisnya.

Sampai di air terjun, saya duduk termenung sambil memandangi air terjun kecil itu. Didepannya terdapat sebuah pohon yang dibagian pangkal batangnya telah tumbuh batang baru yang ranum. Kulihat tiga anak kecil sedang  bercengkerama dengan air dan bebatuan, seakan air, batu dan pepohonan adalah kawan lama dan bagian dari mereka.  Sesekali yang paling kecil menengadah menyambut gemericik air yang meluncur dari bebatuan. Sesekali pula mereka melompat dari batu satu ke batu lainnya, sambil bercengkerama  diantara mereka, bersama air, batu dan pepohonan. Sungguh sebuah pemandangan yang tidak pernah terlupakan. Air terjun Mandiangin telah merajut sukmaku, membawa pulang bersemayam sebuah ketenangan, sebuah keindahan. (Hadikawa)

Hadikawa
HIDUP ITU BAGAIKAN AIR YANG MENGALIR. YANG MEMBEDAKAN HANYALAH AKHIR YANG MAU DIRAIH. KEPANTASAN ATAUKAH KEBINASAAN YANG TAK BERUJUNG. SALAM KEBERSAMAAN.

2 thoughts on “Merajut Sukma Menuju Air Terjun Mandiangin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>